Senin, 23 Maret 2020

Sementara

Hai, blossom-ku. Sudah lama tidak menumpahkan segala yang memenuhi pikiran. Padahal ingin sekali menceritakan segala resah, membagi sedikit kisah dan asa disini. Maaf ya sudah lama ingkar janji, padahal dulu pertama kali membuat blog ini, sudah janji  pada diri sendiri untuk harus selalu cerita. Entah kenapa semakin dewasa, memang semakin banyak cerita, tapi semakin tidak ada energi untuk menceritakannya kembali. Seolah semua energi telah tumpah ruah habis untuk menghadapi cerita-cerita itu.

Gak nyangka ternyata sekarang aku sudah mendekati seperempat abad-ku, Blossom. Gak pernah menyangka bahwa kehidupan akan menjadi seabstrak dan semengejutkan ini. Tahun 2019 lalu merupakan salah satu tahun paling banyak kehilangan selama di hidupku yang hampir setengah abad ini. Bahwa pada akhirnya kita menyadari apa yang ada di dunia ini hanya titipan yang harus dijaga baik-baik. Bahwa semua yang ada di dunia ini hanya sementara. Bahwa segala rasa sedih, senang, kecewa, bahagia, resah, takut dan rasa apapun juga hanya sementara.

Tahun lalu, aku mendapati keluarga baru sekaligus kehilangan keluarga yang sedari kecil merawatku..
Allah itu Maha Adil.... Ia menggantikan sesuatu dengan sesuatu yang lebih indah.. Walaupun pada awalnya aku bertanya-tanya ada apa dibalik semua kejadian-kejadian tersebut. Walaupun ada sedih, ada bingung, ada marah yang menyelimuti hari-hari itu, tapi yang paling aku syukuri adalah aku masih punya mereka yang aku sadari atau tidak, sangat amat aku sayang dan menyayangiku. Baru kali itu aku merasakan hangat sehangat-hangatnya padahal sedang di situasi yang cukup khawatir. Baru kali itu merasa sangat dekat padahal sedang berjauhan. Aku rindu dan akan selalu rindu.

Saat ini, dunia sedang diselimuti ketakutak-ketakutakan, blossom. Dunia sedang membatasi ruang gerak, kita sedang bersama-sama mengambil jeda. Semua orang sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Tapi yang juga patut disyukuri, di antara ketakutan-ketakutan itu, ada hal-hal baik yang juga mengiringi. Langitku disini berubah menjadi biru, bukan lagi abu-abu. Air kini menjadi bening, tidak lagi keruh. Rumah-rumah yang mungkin biasanya hanya menjadi tempat tidur tiap malam, kini dipenuhi tuannya yang sedang berkumpul untuk saling menjaga. Semoga semesta ini juga dipenuhi dengan do'a-do'a baik, semoga kita sebagai makhluk-Nya juga bisa selalu menjaga apa yang sudah Allah titipkan.

Yang pasti
dan perlu selalu diingat,
ini juga hanya sementara.

Semangat, ya?

Kamis, 08 Agustus 2019

Teruntuk teman-teman...
semuanya...
yang sedang dikelilingi tanggung jawab, tugas-tugas, pekerjaan yang belum juga terlihat titik terangnya. Yang sedang sedih, resah, gundah. Yang kepalanya penuh oleh berjuta pikiran dan hatinya sesak oleh bermacam kekhawatiran. Yang dirinya sedang berkecamuk, yang sedang lelah namun tiada waktu berleha-leha. Yang ingin mengambil jeda namun ingin tetap terus berkerja. Yang senantiasa merasa bingung, butuh sandaran. Yang sedang berjuang, sedang berusaha melawan segala nyeri. Yang merasa sendirian, merasa tidak diapresiasi, yang sedang diuji kesabarannya. Yang harus senantiasa senyum seharian padahal menyimpan tangis yang tertahan. Yang sedang rindu, rindu kampung halaman, rindu keluarga, rindu teman. Yang sedang rindu rumah namun tidak bisa pulang. Yang nikmat sehatnya sedang dicabut. Yang memiliki ekspektasi tinggi namun serta merta dikecewakan. Yang merasa harinya buruk, yang dikejar deadline tak berkesudahan.

......mari tarik nafas pelan, teman-teman. Jangan lupa makan, jangan lupa istirahat. Jangan lupa kalau tiap cerita butuh jeda, kalimat butuh koma, butuh titik. Tapi yang harus selalu diingat: "Kita tidak pernah (benar-benar) sendirian."

Mengambil jeda sekali-kali bolehlah.
Menangis sekali-kali boleh.
Tapi janganlah juga berlarut,
dan iringi jugalah dengan do'a.
ya?



Rabu, 05 September 2018

Sedikit Coretan

Dan diantara angin malam
dingin,
menusuk,
menyeruak masuk..

Ada satu yang menghangatkan,
ia perbincangan,
dalam,
nyaman..

Lalu,
bagaimana dengan orang yang tinggal
pada perkotak-kotakan ibukota?
Dalam ruang yang luasnya hanya cukup
untuk menyimpan semua peluh yang tersisa seharian
padahal membawa segelumit cerita yang siap dibagi,
hingga akhirnya hari kembali pagi..

Maka,
coba katakan
dengan siapa lagi ia berbagi?
Selain dengan Tuhan-nya
dan dirinya sendiri?



Jumat, 06 Oktober 2017

Sedikit cerita

Lagi-lagi
perihal kisah
yang belum sempat
tertuang disini

adalah justru
apa-apa
yang tertanam
begitu dalam

sampai lupa
apa-apa
yang terlanjur
tertanam dalam
lebih sulit
diangkat
hingga
akar-akarnya.

Sabtu, 01 Juli 2017

When I Know that I'm Old

When you're young,
thunderstorms seems scary.
Like the sky is
angry at you.
But now that I'm old,
something about its roar
soothes me;
it's comforting
to know that even nature
needs to scream sometimes.

- so do I, so do human

Jumat, 30 Juni 2017

Ada Rindu

Ada rindu terpenjara lalu berubah menjadi sendu,
lalu aku beranjak hendak mengadu
dan kamu
hanya termangu

Ada rindu terpenjara
berubah menjadi debu
dan kamu
masih hanya termangu

Kamis, 18 Desember 2014

3rd Semester Finally Over, Babe!

Astaga....udah lama banget nggak cerita-cerita di blog. Semenjak zaman maba ya hmm. Btw sekarang uti yang dulu bukan uti yang sekarang, uti yang sekarang bukan maba lagi. Uti yang sekarang sudah jadi mahasiswa tingkat dua, kawan. Betapa waktu memang tak henti berlari....

Kehidupan semester tiga sungguh berat, kawan....Tugas-tugas, ujian, praktikum, organisasi, kepanitiaan semua berebut minta menjadi prioritas. Seketika celotehan zaman-zaman maba dulu hanya sebatas butiran agregat halus jika dibandingkan sekarang. Mungkin celotehan ini juga akan hilang nggak ada arti sewaktu aku udah mulai tingkat tiga apalagi mulai nyusun skripsi. Selalu minta dikuatin, selalu berusaha sekuat tenaga untuk kuat. Tapi yang namanya batu  pasti bakal pecah juga, diujung semester tiga ternyata uti tumbang...Mungkin seluruh lelah telah menumpuk, mungkin tubuh emang nggak bisa dibohongin hmm.

Tau kok nggak pantes banget buat ngeluh, masih banyak diluar sana yang usaha & pengorbanannya lebih hebat dibandingkan seorang ini... Nggak boleh ngeluh tapi nggak berarti harus berhenti berharapkan? Harapannya semoga usaha-usaha semester tiga ini berbuah manis ya, semoga berguna nggak harus untuk sekarang, tapi juga buat bekal pasca kampus. Semoga ya...semoga...aamiin...

Sekarang udah mau libur ya, mau nabung tidur dulu...Untuk bekal semester empat he-he. Ganbatte, 2013!

Jumat, 08 Agustus 2014

Sudah setahun kawan, dan aku rindu

Sudah setahun,
Apa kabar?
Bagaimana duniamu?

Kabarku?
Aku baik.
Tapi mungkin tak sebaik saat dulu
setiap pagi
mendengar taklim pagi penyejuk hati

Duniaku?
Duniaku indah, teman.
Tapi mungkin tak seindah saat dulu
kuhabiskan waktu merangkai kisah
mengukir cerita
dengan kalian, teman
 
Sudah setahun rupanya,
dan aku tak tahu apakah hanya aku
atau kalian juga merasakan
perubahan itu

Sudah setahun lebih,
tapi rasanya masih seperti mimpi kawan
menyadari atap kita kini berbeda
rasanya sungguh
seperti mimpi

Ternyata sudah setahun..
apa kamu masih menyimpan
rompi kotak-kotak kebanggaan
atau jas biru yang katamu...
"aku malu memakainya" ?

Baru setahun,
seharusnya perasaan hilang itu belum boleh datang
seharusnya rindu itu tiada memuncak seperti ini
seharusnya...

Karena boleh jadi
mungkin hanya aku
yang merasakan perubahan ini
Jangan-jangan hanya aku,
yang merasakan rindu tiada tara
pada 'sekolah unggul dunia akhirat'







And I remember all those crazy things you said
You left them running through my head
You're always there, you're everywhere
But right now I wish you were here.







Jadi,
apa benar hanya aku?







All those crazy things we did
Didn't think about it, just went with it
You're always there, you're everywhere
But right now I wish you were here





Sudah setahun kawan,
dan sungguh
Aku rindu...



Sincerely,
-Choirunnisa Muthi'ah 

Sabtu, 03 Mei 2014

Batas

"Yang membatasi kita itu diri kita sendiri, bukan bagaimana kita dilahirkan" - Anggun

Ceritanya baru saja mendengar Anggun berkata demikian ketika sedang mengomentari penampilan seorang peserta audisi  berkebutuhan khusus di salah satu acara talent show Indonesia. Seketika kalimat itu sungguh membuat saya berfikir. Cukup lama. Cukup membuat saya termenung.

Bener juga ya, 
pikirku akhirnya. 

Jadi gini,
kebanyakan dari kita (termasuk saya sendiri) hampir selalu membatasi diri untuk melakukan sesuatu. Apapun itu. Contoh kecilnya aja sabar. Ya, sabar. Banyak orang merasa kesabarannya udah abis. Banyak orang gak sabar sebelum kesabarannya itu menuai hasil. Banyak orang berkata 'kesabarannya berbatas'.  Padahal, bukankah hakikat sabar itu sendiri lebih dari sesuatu yang memiliki batas?

Saya yakin banyak dari kalian menganggap ini klise. Sungguh saya pun begitu. Tak ada yang tau batas sebenarnya dari batas itu sendiri bukan? Ketika seseorang ingin mendapat IP diatas 3.50 atau 4.00, misalnya. Disisi lain seseorang itu juga ingin aktif di berbagai organisasi, ukm, kepanitiaan, dan kegiatan lain. Lantas, setelah ia memikirkannya ulang, ia mulai ragu. Dia mulai membatasi dirinya. Mulai datang anggapan-anggapan kalau dia tak akan mampu menjalani kesemuanya. Saran dari orang sekitar pun beradu. Dan akhirnya, tercipta batasan-batasan dalam melakukan sesuatu. Mungkin pada awalnya optimis, tapi lagi lagi ketakutan atas keterbatasan diri itu yang secara tak sadar membuat dirinya terbatas. 

Saya pernah mengalaminya, kawan.
Anggap saja saya ingin menguasai sepakbola (yakali, Ti wkwk). Pada awalnya, saya yakin saya bisa. Sempat terpercik keinginan untuk dapat bermain di piala dunia, misalnya. Seperti orang sedang kasmaran, selalu saja memikirkan bermain bola, selalu bola bola terus dan bola lagi. Setiap hari ingin latihan. Tak sabar menunggu waktu pulang sekolah untuk sekedar bermain bola. Memikirkannya, ingin selalu bersamanya, ingin selalu didekatnya... (oke cukup jangan berlebihan, Ti!). Tapi, siapa sangka lama-kelamaan sang jenuh itu datang, kawan. Kembali membuat jatuh hilang tak terarah. Saat jenuh itu menghampiri, perlahan semangat itu menipis. Akhirnya kikis termakan keputus-asaan, terbunuh batas. "Saya gak akan bisa melakukannya karena saya gak berbakat", "Saya nggak mungkin sehebat dia karena kemampuan saya dan dia berbeda. Kemampuan saya terbatas". Mungkin teman-teman pembaca sekalian (emang ada pembaca, Ti? -_-) pernah atau mungkin sering mengalami hal tersebut. Tapi, apakah kalian percaya kalau ternyata batasan-batasan itulah yang akhirnya membentuk 'bagaimana seseorang' terhadap sesuatu itu. Seberapa hebat kita menguasai apa yang ingin kita kuasai itu tergantung seberapa besar batasan yang kita bentuk.

Gini-gini...

Didefinisikan besar kemampuan seseorang adalah A dan batasan adalah B. 

Dan A = B

Artinya, seberapa besar kemampuan seseorang itu berbanding lurus dengan bagaimana ia mampu membatasi dirinya. Jadi, jangan pernah takut membuat batas, kawan. Jangan pernah ragu untuk percaya kalau kita bisa lebih dari apa yang kita pikirkan.

Batas itu tak berbatas, kawan.
Batas itu dibentuk, bukan terbentuk.

Yak, sekian. 
Semoga bisa menjadi renungan.




Salam manis, 
dari yang manis
untuk yang termanis
- Choirunnisa Muthi'ah


Puisi Jadul - a very latepost

Duduklah,
aku akan menceritakan sebuah kisah padamu,
Bukan tentang langit yang tak juga gemerlap oleh gemintang
Bukan tentang hujan yang rinainya tak reda jua
Apalagi tentang angin yang datang seketika menjatuhkan dedaunan

Dengarlah,
Hanya akan kubisikkan takkan kuteriakkan
Maka jangan kau tulikan telingamu
di saat ku melagukan senandung nyanyianku

Apa kau mengira aku kan bercerita lewat mulut?
Tidak, belum tentu.
 Maka lihatlah,
Jangan kau butakan matamu
di saat ku menarikan melodi penuh kenangan

Karena aku tidak akan mengulangnya,
Kamu hanya cukup rasakan,
Ini bukan tentang bagaimana kau mendengarnya,
Juga bukan tentang bagaimana kau melihatnya,
Melainkan lebih dari seberapa besar kau merasakannya..

Selasa, 07 Januari 2014

masih terlalu banyak di dunia ini yang tak saya pahami, ya Allah
Kuatkan saya dalam sabar dan rasa syukur...

Selasa, 05 November 2013

Dunia Baru


Hai.
Aku kembali.

Halo.
Selamat membaca lagi.

Udah lama banget ngga menumpahkan segala yang memenuhi otak disini. Apa kabar? Haha pertanyaannya kaya roti yang didiemin beberapa hari, jamuran. Oke, jadi, sekarang, disini, aku mau coret-coret tentang a-whole-new-world-ku.

Udah tau dengan dunia baru ku? Yap, dunia ku kini yang bener-bener beda dari yang dulu. Bukan, bukan dunia lain. Dunia ku kini lebih ekstrem, nilai gradiennya gede dan kalo ngga ati-ati melangkah diatasnya, tingkat kesalahan relatifnya bakal gede juga *krik*. Pasti ada yang nanya-nanya dalem hati, itu kenapasih dicoret-coret, penting banget dicoret gitu? Jawabannya PENTING BANGET. Karena aku udah cape dengan laprak, laprak yang tak kunjung usai, laprak yang membuatku jatuh dan tak bisa bangkit lagi hingga membuatku layaknya butiran debu. (apasih Ti!)

Yah....jadi....sekarang...aku-udah-kuliah teman-teman....ulang sekali lagi ehm aku udah ku-li-ah. KULIAH. percaya ngga? Ngga percaya? Sama, aku juga ngga percaya sekarang aku bukan siswi lagi. Udah naik tingkat jadi mahasiswi. Tapi rasanya masih ngga senyata itu. Rasanya kaya ini tuh cuma mimpi trus nanti ada pangeran berkuda putih yang membangunkanku dan kita hidup bahagia selamanya, Intinya, walaupun udah hampir tiga bulan kita(aku dan dunia baruku) pedekate, nyatanya ini masih belum terasa nyata. Tiba-tiba berubah. Tiba-tiba di tempat yang beda. Tiba-tiba pas subuh bangun tidur sendirian. Tiba-tiba sepi. Tiba-tiba ngerasa asing di dunia sendiri.

Well, aku sekarang kuliah di jurusan Teknik Sipil Universitas Indonesia teman-teman. Ngga pernah kepikiran bakal beneran masuk sini

....

karena emang dari awal, rencana mimpi aku bukan kesini tapi ke universitas gajah duduk. Eh ternyata jodohnya disini. Pertama kali liat pengumuman dan tau diterima disini tuh rasanya abstrak. Susah dijelasin. Ceritanya (faktanya deng) aku udah resmi terdaftar di salah satu universitas di Palembang. Udah cape-cape pas puasa daftar ulang(baca: mudik). Udah ngisi biodata untuk buat smartcard. Udah dapet almamaternya malah. Tapi setelah meminta petunjuk dari Allah dan saran sana sini, akhirnya pilihanku jatuh untuk move on dari comfort zone-ku. Dan jadilah, disini aku sekarang, menelusuri lautan yang tak tau dimana kan berujung.

Awal-awal kegiatan maba disini tuh rasanya mager banget dan eteb banget hahaha. Ya gimana ngga, orang keluarga aku lagi pada jalan-jalan liburan eh akunya udah mulai ada kegiatan. Kegiatannya awal maba nya buanyaaakkkk banget, kalo diitung-itung buat kegiatan maba aja hampir sebulan dan itu kegiatannya beruntun gitu, ga ada liburnya, weekend pun tetep ada, liburnya cuma 2-3 hari hahaha. Ikhlas. Bersyukur. Ga ada pilihan lain, aku ikutin semuanya (sebenernya ga semuanya deng pernah kabur juga karena diculik keluarga liburan hahaha). Walaupun begitu, seringnya aku ikut daripada kabur. Bagaimapun juga, uti tetep anak baik-baik yang rajin kok. Gak percaya? Sewaktu ketika aku lagi mager ngerjain tugas dan memilih chat sama soulmate sejiwa sehati sepenanggungan, aku bilang sama dia males ngerjain tugas dan coba tebak apa yang dia bilang? Dia bilang "sejak kapan uti males?-_-" hahahaha ngga tau deh kenapa, apa aku aja yang pintar menutupi kemageranku?

Okey, back to the topic. Tapi, dari semua kegiatan maba yang aku ikutin, yang paling mengukir memori di pikiran tuh pas okkf, itu tuh bener-bener capeknya poolll. Bener-bener seminggu mata udah kaya mata panda pake eyeshadow item. Kebayang ngga? Bener-bener ga tidur. Ngerjain tugas di rumbel sempit-sempitan, kaki ketemu kepala, kepala ketemu kaki. Dari subuh hingga subuh lalu subuh lagi kita bersama tiada henti. Alhasil, ospeknya jadi tidur semua hahaha. Pas ada kesempatan buat tidur misalnya abis istirahat sholat dzuhur, kita sering ga langsung baris, biasanya tidur dulu di teras mushollah hahaha sampe departemen lain tuh ngeliatnya dengan tatapan iba penuh prihatin. Udah ngga ngerti lagi. Tapi itu semua guna banget, esensinya ada. Kita jadi kenal banget seangkatan, kenal bukan cuma tau nama. Kita diajarin empati bukan cuma simpati. Dikasi tau kalo segala sesuatu pas okkf tuh ngga ada apa-apanya dibandingin masa-masa perkuliahan yang menyita tenaga dan pikiran lebih dalam lagi.

Dan nyatanya benar saja, ini masih semester satu. Masih awal. Yang senior bilang tugas-tugasnya masih cupu, kegiatannya masih belom seberapa. Dan kita (aku) udah tepar duluan. Ya Allah, kuatkanlah hamba menjalani semuanya :" Kadang ngerasa ngga sanggup ngejalanin semuanya. Kadang ada momen tertentu waktu aku lagi termenung sendiri di kamar dan seketika yang tumpah adalah tangisan. Pada tangisan yang tumpah itu ada setetes kesepian, banyak rindunya, sisanya mungkin rasa lelah, asing dan bingung.

.....

Tapi

.....

Dalam tangis itu aku bersyukur, bersyukur karena aku berada pada tempat yang tepat. Dikelilingi orang-orang hebat. Bersyukur karena aku ada di departemen teknik sipil. Setidaknya, rasa-rasa itu perlahan hilang bareng dts. Bareng-bareng temen satu sma. Bareng-bareng temen satu kemas. Bareng-bareng mereka. Bersyukur karena bertemu orang-orang hebat yang memiliki sifat dan ciri khas yang berbeda. Bersyukur bisa kuliah disini. Bersyukur punya banyak kegiatan yang setidaknya memudarkan rasa ingin-segera-pulang. Bersyukur masuk UI.



Selamat datang dunia baru...


Doakan saya survive ya!


Kamis, 06 Juni 2013

Tere Liye

Bahwa di dunia ini, untuk menjadi yang terbaik, kompetitor sejati kita tidak pernah datang dari luar, tapi bagaimana mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan ketakutan, mengalahkan perasaan gentar, mengalahkan kemalasan, mengalahkan tinggi hati tidak mau belajar dan mengakui orang lain lebih baik, mengalahkan semua batasan-batasan yang mengekang diri sendiri. Sekali itu berhasil dikalahkan, hanya soal waktu kita akan jadi yang terbaik.

Rabu, 26 Desember 2012

Habibie&Ainun

"Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini."

Sabtu, 24 November 2012

Pelangi 'kan Menanti

Ketika jingga berubah kelabu, 
Tak sedikitpun angin meniup syahdu 
Yang ada langit hanya kelam, 
Meski hari beranjak malam 

Ketika rinainya menyentuh bumi, 
Tak satupun atap dapat menaungi 
Yang ada hanya petir, 
Menghadirkan rasa yang kian ketar ketir

Ketika diri ini tersesat,
Pada kegelapan tanpa setitik cahaya,
Dan yang ada hanya untaian kata tercekat
Namun tak akan langkah ini berhenti,
Karena kuyakin cahaya di ujung sana tlah menanti

Karena pelangi pasti 'kan datang, 
Membawa sejuta warna lagi harapan


- Choirunnisa Muthi'ah

Jumat, 02 November 2012

Musikalisasi Puisi Tentang Seseorang - Cinta AADC [cover]

Pas kemaren buka youtube terus kepikir buat nonton film "Ada Apa Dengan Cinta". Tuh film udah lama banget ya dari jaman aku masih sd tahun 2002. Nah pas kemaren nonton lagi terus denger puisi yang dibacain Cinta kok bagus banget ya...jadi ya iseng cover puisi itu. Walaupun ga sebagus Dian Sastro lah LOL =)) nih puisinya :

Tentang Seseorang

Ku lari ke hutan kemudian menyanyiku,.
Ku lari ke pantai kemudian teriakku
Sepi..sepi dan sendiri aku benci
Ingin bingar aku mau di pasar..
Bosan aku dengan penat
Enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai
Biar mengaduh sampai gaduh
Ada malaikat menyulam jaring labah-labah belang di tembok keraton putih
Kenapa tidak kau goyangkan saja locengnya biar terdera
Atau aku harus lari kehutan
Belok ke pantai ?

Bosan aku dengan penat
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri


 Musikalisasi Puisi Tentang Seseorang - Cinta AADC [cover by me] by utichoirunnisa 

Jumat, 12 Oktober 2012

Perahu Kertas The Movie Quote


Dear Neptunus.. Aku mencintainya. Di depannya aku menjadi diriku sendiri. Seperti airmu yang selalu membawa semua pesanku. Dia pun begitu.. Membuatku hanyut oleh sorot matanya. Membuatku lupa oleh kesedihan rasanya sampai aku tak bisa katakan apa-apa padanya. Bahkan untuk sekedar bilang rindu atau butuh. Banyak yang nggak ngerti, lalu terluka dan saling menyalahkan. Karena itu aku takut berbicara tentang hati. Maka kutuliskan saja, lalu kusimpan dan ku kirimkan ke..entah kemana...

Selasa, 11 September 2012

Because We Live to Live A Life..

What does maturity exactly mean? It is only a question but have so many various answer. I think, every people have their own definiton about maturity. But one thing that I know, maturity has nothing to do with age. We know every people getting older, but not all grown up. So, what is maturity? I have my own definition about maturity. In my opinion, maturity comes from learning with so many experiences, not just living. Maturity is about growning, not just aging. Is about realizing that in this world there is so many thing that we do not know.

 “Experience is the best teacher”. I’m sure that everyone knows that quote. But not all people really mean it. Nowadays, not so many people realize that everything happen for a reason. Many of us do not realize that problems can make us better. When we have a problem, we always complaining without really think what will we do to make it better. Although people around us say be patient, we always say “my patience has run out”. But actually patience has no end. Only a mature person who can be patient without the others say to him to be patient. A mature person can take the credit from his experience, whether it is good or bad experience.

Because he can take the credit from so many experiences, a mature one are grown up faster than other. Usually, a mature person often used as a place to share from people around him. It proved that being a mature person can make other people believe with us. By knowing other people experiences, certainly can increase his knowledge. But, a mature one does not arogant with his knowledge. Instead he feel that there is so many thing that he does not know. He will always learn and learn again. If he get failed, he will not give up easily. He always try again without becoming bitter. A mature person knows there is a rainbow after the rain. Because we live to live a life. 

In short, maturity is not about afraid of the rain, but it is about how we dancing in the rain. I will take one of quotation about maturity. “To make mistakes is human, to stumble is commonplace, to be able to laugh at yourself is maturity.”

Choirunnisa Muthi'ah
Selasa, 11 September 2012 18:37
essay ini aku buat untuk tugas lia
disaat ulangan harian merajalela

Kamis, 06 September 2012

Senin, 03 September 2012

Ini Tentang Kamu..

Sungguh, mencari  sesuatu yang hilang itu bukanlah perihal mudah. Terlebih kita sebenarnya tak begitu tahu apakah sesuatu itu benar-benar pernah ada, atau hanya khayalan yang dilebih-lebihkan sehingga terasa begitu nyata. Bukankah sesuatu yang benar-benar nyata tak pernah dinyata-nyatakan? Kau membuatnya terlihat begitu sempurna, seolah benar adanya. Tanpa pernah kutanyakan kenyataannya.

Dan lagi, kau membuatnya seolah begitu dekat, begitu mudah kugapai. Membuatku hilang ingatan tentang seberapa besar kata dekat itu. Seberapa pintarkah kau membuatnya sedemikian rupa? Jenis mantra apa yang kau gunakan? Sehingga yang jauh terlihat begitu dekat. Atau aku saja yang terlagu lugu, yang kupikir kutatap ternyata hanya dapat kupandang?

Jika memang benar harus hilang, mengapa tak benar-benar hilang? Mengapa masih ada sedangkan sebenarnya tak ada? Bukan perkara sulit untuk terlihat tak ada yang hilang. Bukan perkara sulit pula untuk terlihat sama padahal jelas benar berbeda. Karena yang terlihat sungguh kadang tak benar-benar seperti apa yang terlihat. 

Mengapa semuanya seperti selalu percaya dengan apa yang dilihat oleh mata saja? Padahal ada hal lain yang dapat dilihat selain oleh kasat mata, yaitu hati. Sayangnya, tak banyak yang dapat melihat dengannya. Bukan, bukan tak dapat, hanya saja tak ingin. Terlanjur menutup hati untuk melihat dengan mata saja. 

Dan kau...kurasa salah satunya. Bukan, bukan kamu. Jangan mengira kamu yang kubicarakan ini kamu. Tapi...ya kamu. Selalu begitu, aku penasaran..hal apakah yang sedang kau sembunyikan? Tahukah, kalau sebenarnya aku tak benar-benar ingin tahu? Bukan, aku tak seperti itu. Rupanya waktu sedemikian itu tak cukup lama untuk kau lebih membaca aku. 

Jujur saja, mustahil aku dapat membacamu jika kau tak pernah mengajarkan caranya kepadaku. Bahkan mengajarkan mengejanya pun tidak. Lantas, mengapa kau selalu meneriakkan salah tanpa pernah memberitahu yang benar?

Salahku, jika aku seperti aku? Salahku, mencari yang hilang itu? Salahku, berkata salah pada yang salah? Jadi, tolong beritahuku...apa yang salah? 

-Choirunnisa Muthi'ah
3 September 2012
jika kau telah tahu jawabannya,
beritahu aku secepatnya